Rabu, 07 April 2010

Pasar Jebres

Pasar Jebres kini.
Niat Pemerintah kota Solo untuk menata dan memperbaiki kios-kios pasar Jebres kurang direspon secara positif oleh para pedagang pasar tersebut.






Entah apa yang menjadi alasan utama mereka sehingga kegiatan pasar lebih banyak tumpah dijalan-jalan.




Kesempatan melihat dari dekat keadaan didalam pasar Jebres pagi itu, rupanya lapak-lapak yang disediakan oleh Pemerintah kota bayak yang beralih fungsi sebagai tempat tinggal. Terlihat dari beberapa sudut lorong.












Seorang nenek mencoba bertahan dari himpitankebutuhan
hidup dengan membuat minyak kelapa untuk dijual.

“Ooalah Mbae ki wis tuwo, yo mung koyo ngeneiki kanggo urip, uyub-uyub sambung umur,”
katanya sambil mengaduk minyak kelapa yang sudah mulai jadi (Kanil) istilah mbah Waginem, terlihat badannya yang sudah mulai membungkuk.





Seorang bocah kecil sepantara anak ku tergolek pulas di kursi sofa yang sudah usang, dan seorang ibu muda dengan aktifitas pagi itu.
Aku ingat Ibuku
Aku ingat Istri dan
Anak perempuanku … … …











Diujung jalan seorang nenek setia dengan dagangan yang eksotik. Kembang setaman, kembang tujuh rupa, bahkan kembang untuk nyekar atau untuk nyadran kata orang klaten. Guratan-guratan di wajahnya seakan menjadi bagian dari kisah perjuangan untuk menaklukkan kerasnya kehidupan ini. Dia masih tetap tersenyum, semanis kembang setaman walau sudah mulai layu.